‎Sambut Tahun Kuda Api, Abay: Doa Jadi Awal Harapan Baru

16 Februari 26 | 19:30 WITA

‎TANJUNG SELOR – Nuansa religius dan kekeluargaan menyelimuti Kelenteng Toa Pek Kong di Jalan Jenderal Sudirman, Tanjung Selor, Senin (16/2).

‎Sejak pagi hingga malam hari, warga keturunan Tionghoa dari berbagai wilayah di Bulungan datang bergantian untuk melaksanakan sembahyang penutup tahun menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.

‎Ibadah ini menjadi bagian dari rangkaian penyambutan Tahun Kuda Api yang sarat makna spiritual.

‎Ketua Pelestarian Tradisi Tionghoa Tanjung Selor, Satya Bahari atau yang akrab disapa Abay, menyebut momentum ini sebagai waktu yang tepat untuk mempererat ikatan keluarga sekaligus memanjatkan doa.

‎Menurut Abay, hari tersebut dipilih karena diyakini sebagai hari baik untuk bersembahyang menjelang pergantian tahun. Banyak keluarga sengaja pulang kampung agar dapat beribadah bersama sanak saudara.

‎“Ini waktunya berkumpul. Keluarga yang jauh maupun dekat, selama mampu, pasti datang. Kita berdoa bersama sesuai dengan harapan masing-masing,” ujar Abay usai sembahyang.

‎Ia menjelaskan, secara simbolis pergantian tahun baru akan berlangsung setelah tengah malam, sekitar pukul 00.00, saat memasuki Tahun Kuda Api. Tahun ini, lanjutnya, dipercaya membawa energi besar.

‎“Kuda melambangkan kekuatan dan daya juang. Unsur api memberi makna semangat yang menyala. Harapannya membawa energi baru, terutama bagi ekonomi dan usaha,” jelasnya.

‎Sebagian besar masyarakat Tionghoa di daerah ini bergelut di sektor perdagangan. Karena itu, doa yang dipanjatkan tak hanya menyangkut keselamatan dan kesehatan, tetapi juga kelancaran usaha serta perbaikan ekonomi.

‎“Kami berharap usaha tetap berjalan baik dan perekonomian bisa bangkit kembali,” katanya.

Baca juga  Kapolda Kaltara Hadiri Upacara Peringatan HUT ke-13 Provinsi Kaltara

‎Tak hanya mendoakan keluarga, Abay menyebut doa juga dipanjatkan untuk bangsa dan negara. Ia berharap kondisi nasional ke depan semakin kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi.

“Kami ingin negara dan pemerintah semakin kokoh. Situasi ekonomi memang sedang terasa berat, jadi harapan itu kami panjatkan bersama,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan di kelenteng, aktivitas sembahyang sudah dimulai sejak dini hari. Namun, kepadatan pengunjung paling terasa pada siang hari, ketika seluruh anggota keluarga telah berkumpul.

‎“Saya memilih sembahyang siang supaya bisa bersama keluarga, termasuk yang datang dari jauh,” tuturnya.

‎Usai sembahyang, tradisi makan bersama keluarga besar dilakukan pada malam hari. Keesokan paginya, warga melanjutkan rangkaian Imlek dengan saling berkunjung dalam tradisi open house, diawali dengan sembahyang hari pertama Imlek.

‎“Waktunya fleksibel. Ada yang sembahyang pagi dulu, setelah itu baru menerima tamu,” jelas Abay.

‎Ia pun berharap semangat Tahun Kuda Api mampu membawa perubahan positif bagi kehidupan masyarakat.

‎“Semoga dengan semangat kuda, kita semua bisa melangkah lebih kuat dan melaju lebih jauh ke depan,” pungkasnya. (nur)

Baca juga  Pisah Sambut Kapolda Kaltara, Sinergi Pemprov-Polri Ditekankan

Bagikan:

Berita Terkait