Menjaga Energi dari Lapangan yang Menua

10 Mei 25 | 19:22 WITA

Menjaga Energi dari Lapangan yang Menua
Arsip foto - Lokasi Pertamina EP Cepu Zona 11 Sukowati Field di Desa Ngampel Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro, Senin (17/2/2025). (ANTARA/M.Yazid)

JAKARTA – Di tengah kondisi aset migas yang kian menua, Pertamina EP (PEP) tetap menunjukkan daya tahan. Anak usaha hulu Pertamina ini mencatatkan produksi sebesar 205,18 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD) sepanjang 2024. Angka ini menjadi bukti bahwa keberlangsungan energi nasional masih mungkin dijaga—meski tidak mudah.

Capaian itu ditopang oleh produksi minyak sebanyak 65.482 barel per hari (BOPD) dan gas sebesar 809,40 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Namun, tantangan lapangan tua dengan penurunan produksi alami di atas 10 persen per tahun menjadi ujian utama yang harus dihadapi perusahaan.

Baca juga  Bergantung Tambang, Ekonomi Kaltara Diambang Risiko

“Tanpa dukungan pemerintah, target 2025 berisiko tertunda,” tegas Pelaksana Tugas Direktur Utama PEP, Muhamad Arifin, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (10/5).

PEP menargetkan produksi migas naik menjadi 213 MBOEPD pada 2025, terdiri dari lifting minyak 72.500 BOPD dan gas 625 MMSCFD. Namun menjaga laju produksi bukan perkara mudah. Selain tantangan teknis, proses perizinan lahan—khususnya lahan hutan dan pertanian—juga kerap menghambat percepatan eksplorasi.

Baca juga  Bergantung Tambang, Ekonomi Kaltara Diambang Risiko

Untuk menghadapi tantangan itu, PEP menerapkan strategi berlapis: mulai dari pemeliharaan fasilitas, efisiensi biaya, hingga modernisasi teknologi. Teknik pengeboran casing dan pemasangan pipa konduktor dengan metode piling diandalkan untuk menekan waktu dan biaya operasi. Di saat bersamaan, penerapan teknologi digital dalam proses pengeboran makin diintensifkan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi.

Eksplorasi pun tetap dijalankan. Pada 2024, PEP sukses mengebor sumur eksplorasi lepas pantai West Beluga di wilayah kerja Donggi Matindok, Sulawesi. Langkah ini membuka peluang pengembangan sumber daya baru untuk menyokong pasokan nasional.

Baca juga  Bergantung Tambang, Ekonomi Kaltara Diambang Risiko

Sinergi antar unit usaha dalam Grup Pertamina menjadi penguat lain. Kolaborasi dan berbagi teknologi diinternalisasi sebagai upaya menjaga keberlanjutan produksi, khususnya di tengah tekanan global dan tuntutan dekarbonisasi.

“Sinergi grup dan dukungan regulasi pemerintah adalah kunci mewujudkan target 2025,” kata Arifin.

Dalam ekosistem energi yang penuh tantangan, PEP menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar bertahan—tapi terus bergerak menjaga energi dari lapangan-lapangan yang mulai melemah. (*)

Bagikan:

Berita Terkait