Rudal Houthi Hantam Bandara Utama Israel, THAAD AS Tak Mampu Cegat

10 Mei 25 | 19:31 WITA

Rudal Houthi Hantam Bandara Utama Israel, THAAD AS Tak Mampu Cegat
Arsip - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Mohammed/aa.

B – Sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat kembali gagal mencegat rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi Yaman ke arah Israel. Ini menjadi kegagalan kedua dalam sepekan, saat rudal Houthi dilaporkan menghantam Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Minggu (4/5).

Laporan The Times of Israel, Jumat (9/5), mengungkap bahwa kegagalan tersebut mengakibatkan jantung transportasi udara Israel sempat lumpuh. Bandara utama negara itu harus ditutup selama 30 menit, setelah rudal yang diluncurkan dari wilayah Yaman menghantam area strategis tersebut.

Baca juga  Donald Trump: Timur Tengah "dibujuk" China

Insiden ini terjadi saat sistem pertahanan udara Hetz milik Israel dilaporkan sedang tidak aktif. Ketidaksiapan dua lapis pertahanan—baik dari Amerika maupun Israel—membuat rudal Houthi berhasil mencapai sasaran tanpa hambatan berarti.

Tentara Israel menyatakan telah berupaya mencegat serangan tersebut dan kini tengah menyelidiki insiden secara menyeluruh.

“Pihak kami sedang menyelidiki kejadian ini,” kata juru bicara militer Israel dalam pernyataan singkat.

Baca juga  65 Ribu Anak Gaza Terancam Kelaparan akibat Blokade Israel

Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini. Dalam pernyataan pada Jumat (2/5), mereka menyebut telah meluncurkan rudal balistik hipersonik ke Bandara Ben Gurion—serangan pertama dari jenis itu sejak Israel menggempur Bandara Internasional Sanaa, Yaman, pada pekan sebelumnya.

Serangan tersebut disebut sebagai bentuk pembalasan langsung terhadap eskalasi militer Israel di wilayah Yaman. Keberhasilan Houthi menembus sistem pertahanan dua negara sekutu menandai fase baru dalam konflik Timur Tengah, menunjukkan bahwa teknologi canggih tidak selalu menjamin perlindungan mutlak di medan perang modern. (*)

Baca juga  Terungkap! Jam Kerja Wilayah Ini Jadi yang Terlama di Dunia!
Bagikan:

Berita Terkait