TANJUNG SELOR – Ekonomi Kalimantan Utara tumbuh sebesar 4,06 persen pada triwulan I 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, di balik angka yang tampak menjanjikan itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mengingatkan adanya risiko laten: ketergantungan pada sektor pertambangan yang mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Kontribusi sektor Pertambangan dan Penggalian masih mendominasi struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltara sebesar 28,67 persen. Namun, sektor ini justru mencatatkan kontraksi tipis sebesar 0,06 persen secara tahunan (year-on-year).
“Pemda perlu mengidentifikasi faktor penyebab kontraksi ini dan mempertimbangkan diversifikasi ekonomi ke sektor lain yang lebih berkelanjutan,” kata Kepala BPS Kaltara Mas’ud Rifai.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Ketergantungan pada komoditas tambang membuat perekonomian Kaltara rentan terhadap fluktuasi harga global. Apalagi sektor pertambangan kerap tak banyak menyerap tenaga kerja lokal, berbeda dengan sektor-sektor yang berbasis nilai tambah.
Meski sektor tambang melemah, laju pertumbuhan ekonomi Kaltara tetap ditopang oleh kinerja positif hampir seluruh sektor lain. Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,89 persen. Disusul Industri Pengolahan (10,63 persen), serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (9,34 persen). Perdagangan Besar dan Eceran juga menunjukkan performa positif sebesar 9,08 persen.
Di sisi lain, sektor yang selama ini menjadi andalan seperti Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan hanya tumbuh moderat sebesar 0,53 persen.
BPS juga mencatat kontraksi secara triwulanan (quarter-to-quarter) sebesar 3,07 persen. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya sektor konstruksi (-15,69 persen) dan administrasi pemerintahan (-13,37 persen). Fluktuasi serapan anggaran menjadi salah satu pemicunya.
“Kontraksi pada administrasi pemerintahan ini mengindikasikan adanya pola penyerapan anggaran yang belum optimal di awal tahun fiskal,” ujar Mas’ud.
Namun ada secercah harapan. Industri Pengolahan yang tumbuh 3,16 persen secara kuartalan mulai menunjukkan taringnya sebagai motor ekonomi baru. Sektor ini dinilai memiliki potensi besar jika didorong dengan kebijakan dan insentif yang tepat, terutama karena berbasis sumber daya lokal.
Mas’ud juga menyoroti pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 5,81 persen secara tahunan. Stabilitas harga dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, menurutnya, bisa menjadi kunci memperkuat sektor ini.
Dibandingkan dengan kawasan lain, pertumbuhan ekonomi Kaltara (4,06 persen) masih di bawah rata-rata Pulau Kalimantan yang mencatatkan 4,32 persen. Bahkan tertinggal cukup jauh dari Sulawesi yang tumbuh 6,40 persen.
BPS berharap data ini bisa menjadi masukan penting bagi Pemda Kaltara dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan tak lagi bergantung pada tambang semata. (*)










